Menu Tutup

Ada Lubang Menganga di Jalan Dekat Vokasi UGM

Ada Lubang Menganga di Jalan Dekat Vokasi UGM

Warga sekitar kampus Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta kembali dibuat resah. Sebuah lubang besar. Tiba-tiba muncul di salah satu ruas jalan utama dekat Gedung Vokasi. Lubang itu menganga lebar, dengan kedalaman sekitar satu meter dan lebar hampir dua meter, tepat di jalur yang biasa dilalui mahasiswa, dosen, serta pengguna jalan lainnya.

Jalan Di UGM

Beberapa hari sebelumnya, warga sudah mencium keanehan. Asap tipis muncul dari retakan kecil di jalan. Lalu, hujan deras yang mengguyur kawasan Bulaksumur memperparah kondisi. Jalan aspal retak, lapisan tanah di bawahnya tergerus, dan akhirnya lubang pun terbentuk. Warga yang melintas nyaris terperosok, beruntung tak terjadi kecelakaan fatal.

Aktivitas Kampus Terganggu

Mahasiswa dan pegawai UGM terpaksa mengubah jalur harian mereka. Akses menuju Gedung Vokasi terganggu, bahkan beberapa kendaraan harus memutar jauh untuk mencapai lokasi parkir. Seorang mahasiswa bernama Intan mengaku frustrasi. “Biasanya lima menit sampai, sekarang bisa dua puluh menit. Jalannya padat karena semua kendaraan kumpul di satu titik,” keluhnya.

Selain itu, beberapa kegiatan kampus harus diundur. Beberapa seminar dan kelas praktikum terganggu akibat kesulitan akses. Dosen juga mengeluh karena parkir terbatas. Situasi ini menciptakan ketegangan di antara civitas akademika.

Warga Keluhkan Respons Lambat

Sayangnya, hingga lima hari sejak lubang itu muncul, belum ada penanganan serius dari pihak berwenang. Warga dan mahasiswa menyayangkan lambannya respons dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Yogyakarta. Mereka menilai pemerintah cenderung menunda tindakan, padahal lubang tersebut berpotensi menelan korban.

Pak Darno, pedagang kaki lima yang biasa mangkal di dekat lokasi, merasa kecewa. “Dulu waktu saluran air mampet, kami juga menunggu lama. Sekarang lubang segede itu, tapi belum juga ditambal. Nunggu korban dulu, baru ditindak?” katanya geram.

Kepanikan di Media Sosial

Seiring memburuknya kondisi, netizen pun angkat suara. Banyak unggahan viral di Twitter (X) dan Instagram memperlihatkan foto lubang dengan caption pedas. Salah satu postingan bahkan menyebut, “Lubang di jalan UGM bisa muat motor dan impian mahasiswa semester akhir.” Candaan sarkastik itu menyindir lambannya tindakan pemerintah daerah.

Respons netizen cukup beragam. Ada yang menuntut tindakan cepat, ada pula yang mempersoalkan anggaran pemeliharaan jalan. Tak sedikit yang menautkan akun resmi pemerintah kota dan meminta tanggapan langsung. Namun, sampai artikel ini ditulis, belum ada balasan tegas dari akun resmi tersebut.

Pakar Infrastruktur Turun Tangan

Melihat kekacauan ini, beberapa pakar teknik sipil dari UGM ikut angkat bicara. Dosen Teknik Sipil, Dr. Arya Putra, menjelaskan bahwa lubang tersebut kemungkinan besar muncul akibat erosi lapisan tanah bawah, yang disebabkan buruknya drainase dan tekanan kendaraan berat.

Ia menyarankan pemerintah segera melakukan pemetaan bawah tanah dengan metode geolistrik. “Jangan hanya tambal aspal di permukaan. Kalau di bawahnya keropos, nanti bisa amblas lagi,” tegasnya. Arya juga mengusulkan kerja sama lintas institusi antara pemerintah kota dan kampus untuk mempercepat penanganan.

Mahasiswa Gelar Aksi Simbolik

Sebagai bentuk protes, puluhan mahasiswa jurusan Teknik Sipil dan Tata Lingkungan menggelar aksi simbolik. Mereka membentuk pagar manusia di sekitar lubang sambil membentangkan spanduk bertuliskan “Tutup Lubang, Jangan Tutup Mata.” Aksi damai itu menarik perhatian media lokal dan warga sekitar.

Koordinator aksi, Roni, mengatakan bahwa aksi ini bukan sekadar kritik, tetapi juga ajakan bertindak cepat. Ia menyayangkan kurangnya kepekaan birokrasi terhadap persoalan sederhana namun berdampak besar. “Ini bukan cuma aspal retak. Ini soal keselamatan dan mobilitas ribuan orang,” tegasnya.

DPU Akhirnya Kirim Tim Survei

Setelah gelombang protes membesar, Dinas Pekerjaan Umum Kota Yogyakarta akhirnya mengirim tim teknis untuk memeriksa kondisi lapangan. Tim mulai melakukan pengukuran kedalaman dan lebar lubang, serta menguji kekuatan struktur tanah di sekitarnya.

Kepala Bidang Jalan dan Jembatan DPU, Tri Nugroho, menyatakan pihaknya akan segera menutup sementara lubang dengan material padat agar kendaraan bisa lewat. Namun, perbaikan permanen menunggu hasil analisis teknis dan pengajuan anggaran darurat.

Warga menyambut baik tindakan itu, meski tetap berharap proses perbaikan tidak molor. Mereka menuntut transparansi jadwal pengerjaan dan jaminan keamanan selama proses berlangsung.

Potret Masalah yang Berulang

Kejadian ini bukan yang pertama. Di beberapa titik jalan kota Yogyakarta, kasus lubang mendadak sering terjadi. Namun, minimnya perawatan rutin dan lambatnya respons instansi teknis selalu menjadi momok. Jalan rusak baru mendapat perhatian setelah viral di media sosial.

Masalah ini menunjukkan lemahnya manajemen infrastruktur perkotaan. Padahal, Yogyakarta termasuk kota pendidikan dengan aktivitas lalu lintas tinggi. Jalan yang aman dan layak seharusnya menjadi prioritas utama dalam pengelolaan kota.

Penutup: Infrastruktur Harus Jadi Prioritas

Lubang menganga di dekat Vokasi UGM mencerminkan lebih dari sekadar kerusakan fisik. Ia mewakili kegagapan sistemik dalam merespons krisis publik. Ketika warga sudah melapor, ketika mahasiswa turun aksi, ketika media sosial penuh sorotan, tapi lubang masih menganga—maka ada yang salah dalam pola kerja birokrasi kita.

Pemerintah kota harus bergerak lebih sigap, bukan reaktif setelah viral. Perencanaan, pengawasan, dan perbaikan jalan seharusnya berjalan preventif, bukan hanya berbasis insiden. Kota ini membutuhkan jalan yang aman, karena keselamatan tidak boleh menunggu trending lebih dulu.

Baca Juga: Viral Pria Aniaya Wanita di Toko Sembako Bogor

21 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *